Smart Kartini Logo SMART KARTINI
SOSIALISASI PENYEBAB PENYAKIT LEPTOSPIROSIS 13 APRIL TAHUN 2026    KEGIATAN  POKJA IV TP. PKK DESA DEMANGAN KECAMATAN  TAHUNAN KAB JEPARA  SOSIALISASI PENYEBAB PENYAKIT LEPTOSPIROSIS
12 April 2026 Desa Demangan, Kec. Tahunan

SOSIALISASI PENYEBAB PENYAKIT LEPTOSPIROSIS 13 APRIL TAHUN 2026 KEGIATAN POKJA IV TP. PKK DESA DEMANGAN KECAMATAN TAHUNAN KAB JEPARA SOSIALISASI PENYEBAB PENYAKIT LEPTOSPIROSIS

#PKK
Desa Demangan
Kontributor Desa Demangan TP PKK Desa Demangan, Kec. Tahunan

Pada tanggal 13 April 2026

POKJA IV TP. PKK DESA DEMANGAN KECAMATAN TAHUNAN KAB JEPARA mengadakan SOSIALISASI PENYEBAB PENYAKIT LEPTOSPIROSIS 13 APRIL 2026

Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini dapat menyerang manusia dan hewan, serta sering terjadi pada daerah yang mengalami banjir, memiliki sanitasi yang kurang baik, atau banyak terdapat tikus.

Penyebab Leptospirosis

Penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang terdapat dalam urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus. Selain tikus, hewan lain seperti sapi, kerbau, kambing, anjing, dan babi juga dapat menjadi sumber penularan.

Penularan dapat terjadi melalui:

Kontak langsung dengan urine hewan yang terinfeksi.

Kontak dengan air, tanah, atau lumpur yang telah tercemar urine hewan yang mengandung bakteri Leptospira.

Bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit, selaput lendir mata, hidung, atau mulut.

Mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, meskipun kasus ini lebih jarang terjadi.

Faktor Risiko

Seseorang lebih berisiko terkena leptospirosis apabila:

Tinggal di lingkungan yang banyak tikus.

Sering bekerja di sawah, kebun, peternakan, atau saluran air.

Beraktivitas di daerah yang tergenang air banjir.

Tidak menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan saat bekerja di lingkungan yang berisiko.

Memiliki luka terbuka yang terkena air atau lumpur yang tercemar.

Gejala Leptospirosis

Gejala yang sering muncul antara lain:

Demam tinggi.

Sakit kepala.

Nyeri otot, terutama pada betis dan punggung.

Mata merah.

Mual, muntah, atau diare.

Pada kasus berat dapat terjadi penyakit kuning, gangguan ginjal, gangguan hati, hingga perdarahan.

Pencegahan

Menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus.

Menyimpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup.

Menghindari kontak dengan air banjir atau genangan yang diduga tercemar.

Menggunakan sepatu bot, sarung tangan, dan alat pelindung diri saat bekerja di lingkungan berisiko.

Menutup luka dengan perban kedap air sebelum beraktivitas.

Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam setelah kontak dengan banjir atau lingkungan yang berisiko.

Galeri Foto